Saat Ia Sadar untuk Milih, Ngalih, atau Mulih
Malam itu lebih sunyi dari biasanya.
Angin Gunung Kidul berembus pelan, menyentuh daun-daun yang mulai menua. Ulat kecil itu tidak lagi makan. Ia hanya diam, menatap langit yang gelap.
Ada fase dalam hidup ketika kita berhenti bergerak bukan karena lelah…
tetapi karena sadar.
Dan malam itu, ia sadar.
Hidupnya bukan sekadar soal bertahan dengan satu-dua daun.
Hidupnya bukan sekadar soal dipuji atau dibenci.
Hidupnya adalah tentang pilihan.
Milih.
Ngalih.
Mulih.
Tiga kata yang sederhana.
Tapi menentukan arah seluruh siklusnya.
Milih — Memilih Tetap Menjalankan Misi
Ia bisa saja berhenti.
Ia bisa saja berkata,
“Untuk apa aku bertahan? Toh aku dibenci.”
Ia bisa memilih diam. Tidak makan lagi. Tidak bergerak lagi.
Dan perlahan hilang ditelan alam.
Tak ada yang tahu.
Tak ada yang peduli.
Itu juga pilihan.
Tapi ia sadar, hidup bukan tentang bagaimana orang menilainya.
Hidup adalah tentang apakah ia menjalankan misinya.
Milih berarti memilih sadar bahwa ia lahir membawa peran.
Bukan peran yang indah di awal.
Bukan peran yang disukai semua orang.
Tapi tetap peran.
Ia memilih untuk tidak terjebak pada predikat buruknya.
Ia memilih tetap merayap.
Tetap tumbuh.
Tetap makan secukupnya.
Karena jika ia berhenti hanya karena label,
maka siklus berhenti pada dirinya.
Milih adalah keputusan untuk tidak mengkhianati potensi sendiri.
Ngalih — Berani Berpindah Fase
Beberapa hari kemudian, ia merasakan sesuatu berubah dalam dirinya.
Tubuhnya tidak lagi hanya ingin makan.
Ada dorongan untuk diam.
Untuk menggantungkan diri.
Di sinilah banyak yang salah paham.
Orang mengira perubahan adalah kelemahan.
Padahal perubahan adalah keberanian.
Ngalih bukan lari dari masalah.
Ngalih adalah berpindah dari satu fase ke fase berikutnya.
Ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya.
Ia bersiap menjadi bagian dari siklus yang lebih besar.
Saat ia masuk ke fase kepompong, tubuh lamanya hancur.
Bentuk lamanya tidak lagi relevan.
Dan itu menyakitkan.
Tapi tanpa kehancuran itu, tidak ada sayap.
Ngalih berarti berani meninggalkan identitas lama.
Berani melepaskan kenyamanan merayap.
Berani tidak lagi dikenal sebagai “ulat”.
Secara siklus, di sinilah ia menjadi imortal.
Karena ketika ia menjadi kupu-kupu, ia menyebarkan serbuk sari.
Ia memperpanjang kehidupan yang bukan miliknya sendiri.
Ia mungkin mati sebagai individu.
Tapi siklusnya hidup terus.
Itulah bentuk keabadian yang paling sunyi.
Mulih — Kembali dengan Kesadaran
Namun bahkan kupu-kupu pun tidak selamanya terbang.
Ada waktu ketika sayap melemah.
Ada waktu ketika angin tak lagi mengangkatnya.
Dan di titik itu, ia tidak panik.
Ia tahu hidupnya bukan miliknya sepenuhnya.
Ia hanya dititipi waktu.
Dititipi peran.
Dititipi siklus.
Mulih bukan menyerah.
Mulih bukan kalah.
Mulih adalah kembali kepada Sang Pemilik Hidup setelah misi selesai.
Baik karena keadaan memaksa,
atau memang sudah waktunya pulang.
Yang membedakan adalah kesadaran.
Jika ia telah memilih dengan sadar,
telah berpindah fase dengan berani,
telah menyelesaikan perannya dengan tuntas—
maka mulih bukan kehilangan.
Mulih adalah penyempurnaan.
Malam itu, ulat kecil—yang sebentar lagi bukan lagi ulat—tersenyum dalam diamnya.
Ia tahu, yang mahal bukan lagi daun.
Bukan lagi serbuk sari.
Bukan lagi pujian sebagai kupu-kupu.
Yang mahal adalah kesadaran memilih jalan hidup.
Milih untuk tetap menjalankan misi.
Ngalih untuk naik ke fase berikutnya.
Mulih untuk kembali dengan tenang.
Dan mungkin, dalam hidup kita pun sama.
Kita sering sibuk mencari hasil,
padahal yang menentukan arah adalah pilihan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal seberapa lama kita merayap atau terbang.
Tetapi apakah kita sadar
saat harus milih,
saat harus ngalih,
dan saat harus mulih.




