dan perjalanan menemukan jalan pulang.
Setelah beberapa waktu belajar memahami
kehidupan di atas pohon, ulat itu mulai
merasa bahwa dunianya tidak lagi
sesederhana dahulu. Ia sudah mengenal
rasa cukup, mulai memahami getaran,
dan menyadari bahwa tidak semua
perubahan harus ditanggapi
dengan ketakutan.
Namun, pengetahuan baru ternyata
tidak selalu membuat kehidupan
menjadi lebih mudah.
Justru semakin banyak yang dipahami,
semakin banyak pula pilihan
yang terlihat di hadapannya.
Suatu pagi, ulat itu sampai
pada percabangan batang.
Satu cabang mengarah ke bagian pohon
yang selama ini dikenalnya.
Cabang lainnya menjulur ke arah
yang belum pernah ia datangi.
Ia berhenti.
Bukan karena tidak sanggup bergerak.
Melainkan karena untuk pertama kalinya,
ia benar-benar memikirkan
arah yang ingin ditempuh.
“Apakah aku harus tetap di sini,
mencoba jalan yang berbeda,
atau kembali ke tempat
aku memulai?”
Pertanyaan itu mengingatkannya
pada tiga kata yang pernah
didengarnya dari kehidupan
di sekeliling pohon.
Milih. Ngalih. Mulih.
Tiga kata sederhana.
Tetapi ternyata tidak mudah
untuk dijalani.
Ketika Tidak Memilih Juga Menjadi Pilihan
Ulat itu masih diam di percabangan.
Ia memperhatikan jalan ke kiri,
lalu ke kanan. Keduanya memiliki
kemungkinan yang belum sepenuhnya
ia pahami.
Jalan yang sudah dikenalnya
terasa aman. Ia mengetahui
letak daun yang biasa dimakan,
bagian batang yang nyaman,
serta tempat berlindung
ketika hujan datang.
Sementara jalan baru tampak
menarik sekaligus mengkhawatirkan.
Ada kemungkinan menemukan
daun yang lebih segar,
tetapi juga kemungkinan
bertemu ancaman yang
belum pernah dihadapi.
Karena bingung, ia memutuskan
untuk menunggu.
Satu jam berlalu.
Matahari semakin tinggi.
Angin mulai bertiup.
Namun, ulat itu masih
berada di tempat yang sama.
Ia merasa belum mengambil keputusan.
Padahal waktu terus berjalan,
sementara keadaan
di sekitarnya berubah.
Mungkin manusia juga begitu.
Kita sering menunda keputusan
karena ingin mendapatkan
informasi yang lengkap.
Ingin memastikan tidak ada risiko.
Ingin mengetahui hasilnya
sebelum mulai melangkah.
Padahal tidak semua keputusan
menyediakan kepastian.
Dalam beberapa keadaan,
menunda memang merupakan
tindakan yang bijaksana.
Tetapi dalam keadaan lain,
terlalu lama menunggu justru
membuat kesempatan berlalu.
“Tidak memilih bukan berarti
kita terbebas dari konsekuensi.
Terkadang, kita hanya membiarkan
keadaan yang memilihkan
jalan untuk kita.”
Ulat itu mulai memahami
bahwa keputusan tidak selalu
dimulai dari mengetahui
mana jalan yang sempurna.
Kadang keputusan dimulai
dari keberanian menerima
bahwa setiap jalan
memiliki konsekuensinya sendiri.
Milih: Memahami Mengapa Kita Memilih
Akhirnya ulat itu bertanya
kepada dirinya sendiri.
Apa sebenarnya yang sedang
ia cari? Daun yang lebih banyak?
Tempat yang lebih aman?
Atau sekadar keinginan melihat
sesuatu yang berbeda?
Ia mulai menyadari bahwa
jawaban terhadap pertanyaan itu
akan memengaruhi
jalan yang dipilihnya.
Jika tujuannya mencari makanan,
ia perlu memperhatikan
keberadaan daun.
Jika tujuannya mencari perlindungan,
ia harus memahami kondisi
cabang dan lingkungan.
Tetapi jika ia bergerak
hanya karena melihat ulat lain
menuju arah tertentu,
belum tentu jalan tersebut
sesuai dengan kebutuhannya.
Bukankah manusia sering
mengalami hal yang sama?
Kita melihat orang lain
membuka usaha, lalu ingin
membuka usaha serupa.
Melihat seseorang menggunakan
teknologi baru, lalu merasa
harus segera mengikutinya.
Melihat sebuah peluang
yang sedang ramai dibicarakan,
kemudian menganggapnya
sebagai kesempatan yang
tidak boleh dilewatkan.
Padahal sesuatu yang baik
bagi orang lain belum tentu
menjadi pilihan terbaik
bagi keadaan kita.
Bukan berarti kita tidak boleh
belajar dari pengalaman mereka.
Justru pengalaman orang lain
dapat menjadi informasi
yang sangat berharga.
Tetapi informasi adalah
bahan pertimbangan,
bukan pengganti
tanggung jawab memilih.
Milih bukan sekadar menentukan
jalan yang terlihat menarik.
Milih adalah memahami tujuan,
menimbang kemungkinan,
dan bersedia menerima
konsekuensi dari pilihan.
Ulat itu belum mengetahui
seluruh jawaban.
Namun, setidaknya ia mulai
memahami pertanyaan
yang seharusnya diajukan.
Ngalih: Keberanian Meninggalkan yang Dikenal
Setelah mempertimbangkan
berbagai kemungkinan, ulat itu
akhirnya memilih cabang baru.
Perlahan ia bergerak meninggalkan
tempat yang selama ini
terasa begitu akrab.
Langkah pertamanya
tidak terlalu jauh.
Tetapi perasaannya
cukup berbeda.
Ada rasa penasaran.
Ada sedikit ketakutan.
Ada harapan bahwa
perjalanan tersebut
akan membawanya
pada sesuatu yang baik.
Ia menemukan permukaan batang
yang belum pernah disentuh.
Arah cahaya yang berbeda.
Bahkan jenis daun
yang tidak sama
dengan tempat sebelumnya.
Tidak semuanya menyenangkan.
Beberapa bagian cabang
terasa sulit dilewati.
Sesekali ia harus berhenti
untuk mencari jalan.
Namun, perlahan ia belajar
memahami lingkungan baru.
Di sinilah ulat mulai
memahami makna ngalih.
Berpindah bukan sekadar
meninggalkan sebuah tempat.
Berpindah berarti bersedia
menghadapi keadaan baru
yang belum sepenuhnya
kita kuasai.
Dalam kehidupan manusia,
ngalih bisa memiliki
begitu banyak bentuk.
Mengubah cara bekerja.
Meninggalkan kebiasaan lama.
Mengembangkan kemampuan baru.
Mengakhiri strategi
yang tidak lagi relevan.
Atau bahkan mengakui
bahwa sesuatu yang dahulu
kita yakini ternyata
perlu diperbaiki.
“Tidak semua perubahan
berarti kita telah salah memilih.
Terkadang, perubahan justru
menjadi bagian dari perjalanan
menjalankan pilihan tersebut.”
Tetapi ulat juga mulai
memahami bahwa berpindah
tidak selalu menjadi jawaban.
Ada persoalan yang memang
membutuhkan perubahan tempat.
Ada pula persoalan
yang sebenarnya membutuhkan
perubahan cara berpikir.
Jika keduanya tidak dibedakan,
kita bisa terus berpindah
tanpa benar-benar
menyelesaikan persoalan.
Ketika Jalan Baru Tidak Seindah Dugaan
Perjalanan ulat tidak selalu
berjalan sesuai harapan.
Pada suatu bagian cabang,
ia menemukan daun-daun
yang ternyata sudah mulai
mengering.
Ia berhenti.
Tempat yang dari kejauhan
terlihat begitu menjanjikan
ternyata tidak sepenuhnya
seperti yang dibayangkan.
Seketika muncul penyesalan.
Mengapa tadi ia meninggalkan
cabang lama? Mengapa tidak
tetap berada di tempat
yang sudah dikenal?
Tetapi setelah beberapa saat,
ia mulai berpikir lebih tenang.
Apakah keputusan tadi
benar-benar salah?
Atau ia hanya sedang
menghadapi kenyataan
yang berbeda dari harapannya?
Dua hal itu ternyata
tidak selalu sama.
Sebuah keputusan dapat dibuat
dengan pertimbangan yang baik,
tetapi tetap menghasilkan
keadaan yang tidak diharapkan.
Sebaliknya, sebuah keputusan
yang kurang dipertimbangkan
terkadang menghasilkan
keberuntungan.
Karena itu, menilai kualitas
keputusan hanya berdasarkan
hasil akhirnya bisa membuat
kita salah memahami
proses yang telah dilalui.
Ulat itu belajar bahwa
ia perlu membedakan
keputusan, proses,
dan hasil.
Jika informasi yang digunakan
ternyata keliru, ia bisa
memperbaiki cara memilih.
Jika keadaan berubah,
ia bisa menyesuaikan langkah.
Dan jika tujuan awal
sudah tidak lagi relevan,
ia boleh mempertimbangkan
arah yang berbeda.
Kesalahan tidak selalu
terletak pada pilihan
yang menghasilkan kesulitan.
Terkadang, kesalahan justru
muncul ketika kita menolak
belajar dari kesulitan tersebut.
Mulih: Kembali Bukan Berarti Kalah
Ketika sore mulai tiba,
ulat itu memandang kembali
ke arah cabang asalnya.
Dari kejauhan, tempat tersebut
masih terlihat seperti dahulu.
Ia mulai mempertimbangkan
kemungkinan untuk kembali.
Namun, muncul pertanyaan
yang membuatnya ragu.
Jika ia kembali,
apakah itu berarti
perjalanannya gagal?
Apakah ulat lain
akan menganggapnya
tidak cukup berani?
Bukankah ia sudah
meninggalkan tempat lama
dengan keyakinan bahwa
cabang baru akan
memberikan pengalaman
yang lebih baik?
Tetapi kemudian ia menyadari
sesuatu yang sebelumnya
tidak terpikirkan.
Ia memang bisa kembali
ke cabang yang sama.
Namun, ia tidak lagi
menjadi ulat dengan
pemahaman yang sama.
Ia telah mengenal jalan baru,
menghadapi ketidakpastian,
membuat keputusan,
dan memperoleh pengalaman.
Jika akhirnya memilih pulang,
seluruh pengalaman itu
tidak otomatis menghilang.
Mungkin manusia juga
perlu memahami hal tersebut.
Kembali pada pekerjaan lama
tidak selalu berarti gagal.
Mengubah strategi bisnis
tidak selalu menunjukkan
ketidakmampuan.
Mengakui bahwa sebuah gagasan
belum berhasil bukan berarti
seluruh prosesnya sia-sia.
Bahkan terkadang,
keberanian terbesar
bukan terletak pada
kemampuan terus maju.
Melainkan kemampuan
untuk mengakui bahwa
arah yang sedang ditempuh
perlu dipertimbangkan kembali.
“Mulih bukan selalu berarti
kembali ke tempat semula.
Terkadang, mulih berarti
kembali memahami
apa yang sebenarnya
penting bagi kita.”
Sebab ada orang yang
telah bepergian begitu jauh,
tetapi kehilangan pemahaman
mengenai tujuan perjalanannya.
Ada pula yang tidak
berpindah terlalu jauh,
tetapi justru berhasil
menemukan makna
dari kehidupannya.
Tiga Kata, Satu Kesadaran
Setelah cukup lama merenung,
ulat itu akhirnya melanjutkan
perjalanannya. Ia tidak
langsung kembali ke cabang lama,
tetapi juga tidak memaksakan
diri untuk terus bergerak
tanpa arah.
Ia memilih berhenti
pada bagian cabang
yang cukup aman.
Di sana ia beristirahat
sambil memperhatikan
keadaan sekitarnya.
Untuk pertama kalinya,
tiga kata yang sebelumnya
terasa membingungkan
mulai menemukan maknanya.
Milih adalah keberanian
menentukan arah.
Ngalih adalah kesediaan
menghadapi perubahan.
Mulih adalah kemampuan
kembali pada sesuatu
yang memiliki makna.
Ketiganya tidak harus
dipertentangkan.
Ada masa ketika kita
perlu mengambil keputusan
dan bertahan menjalankannya.
Ada masa ketika keadaan
menuntut perubahan.
Dan ada masa ketika
kita perlu berhenti,
melihat kembali perjalanan,
lalu mengingat tujuan awal.
Saya sendiri sering
mengalami persimpangan
seperti itu.
Terutama ketika mengembangkan
sebuah ide menjadi sistem
atau membangun sesuatu
yang sebelumnya belum
pernah saya kerjakan.
Ada begitu banyak pilihan
teknologi, model bisnis,
pendekatan, dan strategi
yang terlihat menarik.
Kadang kita harus memilih
satu di antaranya.
Kadang perlu mengganti
pendekatan setelah melihat data.
Kadang juga perlu
kembali pada pertanyaan
paling sederhana:
“Sebenarnya, persoalan apa
yang sejak awal ingin
kita selesaikan?”
Lucunya, pertanyaan sederhana
seperti itu justru sering
terlupakan ketika kita
sudah terlalu jauh
menikmati kerumitan.
Hahaha.
Mungkin itulah sebabnya
sesekali kita membutuhkan
waktu untuk berhenti.
Bukan karena kehabisan
kemampuan untuk bergerak.
Melainkan agar langkah
berikutnya tidak hanya
menjadi gerakan
tanpa tujuan.
Ulat itu memandang
daun di hadapannya.
Setelah beristirahat,
ia kembali makan.
Besok mungkin
akan ada persimpangan baru.
Mungkin ia perlu memilih lagi.
Mungkin harus berpindah.
Mungkin juga perlu kembali.
Tetapi kini ia memahami
bahwa kehidupan tidak selalu
menuntut satu jawaban
untuk semua keadaan.
Yang lebih penting
adalah terus belajar
memahami keadaan,
menjaga kesadaran,
dan bertanggung jawab
atas langkah yang dipilih.
