Ada sebuah kisah yang beberapa waktu lalu begitu menampar egoku. Cerita Yasa Singgih—sosok entrepreneur muda yang pernah naik ke puncak, lalu dengan lapang dada turun dari puncak itu demi menemukan jalan baru. Saya merasa relate, seolah pengalaman itu cermin besar yang memantulkan perjalanan saya sendiri.
Saya sering membayangkan, jika sudah membangun sesuatu selama bertahun-tahun, menanam reputasi, memperjuangkan identitas hingga orang lain mengenal siapa saya—mampukah saya, jika tiba saatnya, untuk benar-benar melepaskan semua itu? Rupanya, fase “reset” bukan sekadar soal ganti bisnis. Itu soal membebaskan diri dari jerat identitas, ego, dan label yang menempel bertahun-tahun.
Yasa dulu membangun brand sepatu. Ia dikenal sebagai pengusaha muda, tampil di majalah-majalah, masuk Forbes, dan namanya naik daun karena prestasinya. Tapi tiba-tiba badai datang. Bisnisnya berhenti karena pandemi. Dalam sekejap, identitas “anak sepatu” itu tak lagi relevan. Di situlah saya benar-benar tertegun, karena pengalaman ini juga pernah menghampiri saya—walau dengan bentuk cerita yang berbeda.
Sebagai pebisnis, saya terbiasa memikirkan mitigasi, membuat skenario worst case, menyusun plan A sampai Z, bahkan kadang sampai lupa bahwa hidup itu punya takdir di luar rencana kita. Ketika bisnis atau hidup “macet” dan harus di-reset, rasanya seperti diminta menulis ulang cerita hidup dari halaman pertama. Pertanyaannya: Berani nggak kita benar-benar jadi gelas kosong? Atau justru terjebak pada bayang-bayang diri yang dulu?
Di momen itu, saya paham—mungkin, ujian terberat seorang entrepreneur bukanlah jatuh, tapi melepas identitas lama dan membiarkan diri tumbuh lagi dari bawah. Ego sering berbisik, “Kalau saya reset, berarti saya gagal dong?” atau “Nanti orang lain bilang apa?” Namun Yasa membuktikan, justru dari proses melepaskan itu, pintu-pintu pertumbuhan baru terbuka.
Belajar “Let Go” dan Memulai Lagi
Setiap fase “reset” memang menyakitkan. Tidak ada yang suka kehilangan reputasi, apalagi harus menjawab rasa malu pada diri sendiri dan lingkungan. Tapi saya belajar, seperti yang dilakukan Yasa, keberanian mengakui kegagalan dan memulai ulang itulah yang justru membangun karakter. Waktu Yasa beralih dari bisnis sepatu ke creative agency, dia tidak serta-merta mempublikasikan diri. Ia bangun pelan-pelan, dari teman ke teman, bahkan tanpa nama brand resmi selama setahun lebih. Hanya fokus pada kualitas, pelayanan, dan membangun ulang portofolio dengan cara benar.
Saya pun kini lebih memahami: Bisnis itu hanya kendaraan. Kita boleh saja mengganti kendaraan yang tidak lagi fit dengan kebutuhan hidup, tanpa perlu merasa gagal. Kalau dulu, motivasi saya adalah “impress”—mencari pengakuan orang, ingin dipandang berhasil, ingin sukses di mata orang lain. Tapi, seiring waktu dan pengalaman jatuh bangun, saya mulai bergeser ke “express”—mengekspresikan diri dengan jujur, melakukan apa yang sesuai value dan kemampuan saya, tanpa harus mengejar validasi eksternal.
Bisnis, Legacy, dan Memanusiakan Manusia
Ada hal lain yang saya pelajari dari kisah Yasa: pentingnya memanusiakan manusia dalam membangun bisnis. Waktu masih di bisnis produk, yang dihitung adalah stok, margin, dan seberapa cepat barang berpindah dari gudang ke pelanggan. Tapi ketika beralih ke bisnis jasa, “barang” yang diolah adalah manusia—tim, klien, partner. Di sinilah ujian baru muncul. Bagaimana kita membangun lingkungan yang sehat, gaji yang layak, suasana kerja yang memacu pertumbuhan, dan memperlakukan tim sebagai manusia, bukan sekadar angka di laporan keuangan.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri: Mau membangun perusahaan raksasa dengan ribuan karyawan tapi tak ada ruang bertumbuh, atau membangun 1000 UMKM yang kecil tapi sehat dan humanis? Tidak ada jawaban mutlak. Tapi saya yakin, skala besar tidak selalu identik dengan dampak besar. Sering kali, dampak nyata justru hadir dari bisnis yang memberi ruang tim untuk tumbuh, naik kelas, dan memperbaiki taraf hidup secara nyata.
Keadilan sosial, dalam konteks bisnis, bukan cuma soal membayar THR tepat waktu atau menaikkan gaji. Tapi juga soal bagaimana membangun budaya sehat—membayar vendor secepat mungkin, menolak budaya suap/kickback, menjaga integritas, dan membangun legacy yang tidak hanya sekadar “brand” tapi juga personal branding sebagai manusia jujur.
Rezeki, Hoki, dan Keberuntungan
Saya juga tercerahkan oleh pengakuan Yasa tentang “hoki” dan keberuntungan. Ia bilang, ia tidak sepenuhnya percaya bahwa semua pencapaian adalah 100% karena kerja keras. Ada pertemuan tak sengaja, kebaikan kecil di masa lalu, relasi yang dijaga, dan benih-benih yang berbuah di luar dugaan. Saya pun merasa begitu. Kadang, kebaikan atau relasi yang kita bangun hari ini mungkin baru terasa manfaatnya bertahun-tahun kemudian. Ada waktu di mana kerja keras dan keberuntungan bertemu, dan di sanalah pintu rezeki terbuka.
Makanya, kini saya lebih percaya membangun legacy diri. Brand boleh berganti—bisnis boleh reset—tapi integritas, nama baik, dan track record akan terus dibawa ke mana pun kendaraan hidup kita melaju. Seberapa sering pun kita reset, kalau pondasi personal branding-nya kuat, kepercayaan orang lain akan tetap datang.
Babak Baru, Tanpa Beban Masa Lalu
Pada akhirnya, kisah reset Yasa Singgih membuat saya makin yakin: Tak ada aib dalam memulai ulang. Bahkan, “reset” adalah keberanian tertinggi seorang entrepreneur, apalagi jika dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan karena putus asa. Saya belajar, lebih baik jujur pada diri sendiri, mengakui fase gagal, lalu mengambil pelajaran, move on, dan membangun ulang cerita dengan cara yang lebih sehat, relevan, dan bermakna.
Sekarang, saya menjalani babak baru dengan motivasi yang berbeda. Bukan sekadar impress, tapi express. Bukan sekadar membangun bisnis besar, tapi membangun bisnis sehat dan humanis. Bukan mengejar “status lama” tapi mengejar pertumbuhan berkelanjutan, legacy, dan manfaat untuk banyak orang.
Buat saya, reset bukanlah akhir. Ia justru awal untuk hidup yang lebih dewasa, lebih manusiawi, dan lebih bermanfaat.
Penutup:
Jika suatu hari nanti harus reset lagi, saya sudah tahu: kuncinya bukan soal kendaraan apa yang saya pilih, tapi siapa diri saya selama perjalanan itu berlangsung. Integritas, legacy, dan keberanian “let go” akan jadi kompas untuk setiap babak baru kehidupan. Terima kasih, Yasa Singgih, atas inspirasinya.