Belajar Salah untuk Setiap Langkah – Seri 01


Belajar Salah untuk Setiap Langkah
Seri 01 — Saya Tidak Memulai dari Teknologi, Saya Memulai dari Masalah UMKM

Saya Tidak Memulai dari Teknologi, Saya Memulai dari Masalah UMKM

“Setiap perjalanan selalu terlihat lebih masuk akal ketika kita melihatnya dari belakang. Padahal ketika menjalaninya, kita sering hanya sedang mencoba memahami satu persoalan demi satu persoalan.”

Kalau hari ini ada yang bertanya kepada saya, “Mengapa akhirnya membangun BikinBagus?” saya mungkin bisa memberikan jawaban yang terdengar rapi.

Saya bisa bicara tentang teknologi, digitalisasi, AI, media, pendidikan, data, atau berbagai platform yang sekarang sedang saya bangun.

Namun kalau saya mencoba jujur melihat perjalanan ke belakang, semua itu bukan titik awalnya.

Saya tidak memulai dari teknologi.
Saya memulai dari masalah.

Lebih tepatnya, dari berbagai masalah yang saya temui ketika berhadapan dengan pelaku usaha.

Sejak sekitar tahun 2007, saya cukup sering berada di lingkungan UMKM. Dalam berbagai kesempatan saya mendapat peran sebagai pendamping, trainer, orang yang diajak berdiskusi, membantu membedah bisnis, atau sekadar menjadi tempat seseorang bercerita tentang usahanya.


Perjalanan sering dimulai dari masalah kecil yang terus kita temui.

Ada yang datang dengan kondisi bisnis baru tumbuh. Ada yang sedang berusaha naik kelas. Ada yang omzetnya mulai turun. Ada yang sudah bertahun-tahun menjalankan usaha tetapi merasa bisnisnya jalan di tempat.

Situasinya berbeda-beda. Industrinya berbeda. Produk yang dijual berbeda. Pemilik usahanya berbeda.

Tetapi semakin lama saya berada di tengah mereka, saya mulai melihat sesuatu yang terasa berulang.

“Mengapa masalah seperti ini muncul lagi?”

Setiap Orang Datang dengan Masalah yang Berbeda

Kalau kita bertemu seorang pemilik usaha, hampir selalu ia datang membawa masalah yang terlihat sangat spesifik.

Ada yang berkata, “Mas, jualan saya turun.”

Ada yang mengatakan, “Produk saya bagus, tetapi kok orang tidak tertarik?”

Ada yang merasa, “Sekarang pesaing makin banyak.”

Ada pula yang mengeluhkan, “Saya sudah promosi di media sosial tetapi tidak menghasilkan.”

Pada awalnya saya juga melihat semua itu sebagai masalah yang berbeda.

Saya belajar website. Saya belajar digital marketing. Saya belajar branding. Saya belajar membuat materi promosi. Saya belajar melihat struktur bisnis.

Dan semakin banyak persoalan yang saya temui, semakin banyak pula hal yang saya merasa harus pelajari.

BikinBagus.
Membuat sesuatu menjadi lebih baik.

Kata dotcom membawa keyakinan bahwa teknologi dapat menjadi salah satu alat untuk membantu proses tersebut.

“Kalau sebuah masalah bisa selesai tanpa teknologi, tidak ada alasan bagi saya memaksakan teknologi.”

Lama-lama Saya Merasa Sedang Memperbaiki Gejala

Semakin lama mendampingi berbagai usaha, ada perasaan yang mulai muncul.

Saya merasa seperti dokter yang terus memberikan obat untuk gejala yang berbeda, tetapi pasien yang datang mempunyai penyakit yang hampir sama.


Masalah yang terlihat sering kali hanyalah gejala.

Di situlah saya mulai bertanya:

“Apakah sebenarnya saya sedang menyelesaikan masalah, atau hanya memperbaiki gejalanya?”

Omzet turun bukan selalu akar masalah. Omzet sering kali hanyalah hasil akhir dari rangkaian perubahan yang terjadi jauh sebelumnya.

Bisa jadi konsumennya berubah. Bisa jadi cara mencari informasi berubah. Bisa jadi persepsi terhadap produk berubah.

Kita sering terlalu sibuk melihat bisnis dan terlalu sedikit melihat manusia.

Pada Akhirnya, Bisnis Selalu Bertemu Manusia

Sederhananya, siapa yang membeli produk? Manusia.

Siapa yang memutuskan membeli atau tidak? Manusia.

Siapa yang menentukan sebuah brand dianggap bernilai? Manusia.


Semua strategi bisnis pada akhirnya kembali kepada manusia.

Sebuah produk tidak mempunyai nilai dengan sendirinya. Nilai muncul ketika manusia memaknainya.

Di sinilah saya mulai tertarik pada persoalan persepsi. Bukan untuk memanipulasi manusia, tetapi memahami bagaimana manusia memberi makna terhadap sesuatu.

Pasar Tidak Berubah Sendiri

Pasar tidak berubah dengan sendirinya. Pasar berubah karena manusia berubah.

Cara manusia berkomunikasi berubah. Cara mencari informasi berubah. Cara menentukan kepercayaan berubah. Cara belajar berubah.

Ketika manusia berubah, bisnis ikut berubah.

Karena itu bisnis yang bertumbuh adalah bisnis yang mampu memahami manusia sebelum sekadar menjual kepadanya.

BikinBagus membantu pelaku usaha memahami kebutuhan pasar lebih cepat daripada perubahan pasar itu sendiri.

Mungkin Inilah Arti BikinBagus yang Sebenarnya

Ketika nama BikinBagus dibuat, maknanya sederhana: membuat lebih baik.

Membuat lebih baik tidak selalu berarti mengganti sesuatu. Kadang hanya perlu memahami lebih dalam.

Teknologi bukan tujuan. Teknologi adalah alat untuk mempercepat manusia memahami, belajar, dan mengambil keputusan.

Saya tidak memulai dari teknologi. Saya memulai dari masalah UMKM.

Namun semakin jauh perjalanan itu membawa saya, semakin saya sadar:

Yang sebenarnya sedang saya pelajari sejak awal bukan UMKM, bukan pemasaran, bahkan bukan teknologi.

Saya sedang belajar memahami manusia.

Refleksi

Dulu saya sering merasa sebuah masalah membutuhkan jawaban.

Sekarang saya mulai merasa bahwa sebelum mencari jawaban, mungkin kita perlu memperbaiki pertanyaannya terlebih dahulu.

Karena perjalanan bukan proses mengumpulkan pembenaran bahwa kita selalu benar.

Perjalanan adalah proses menemukan bagian mana dari pemahaman kita yang masih perlu diperbaiki.

Belajar Salah untuk Setiap Langkah.