Ada keputusan-keputusan dalam hidup yang ketika kita ambil terasa sangat benar.
Bukan karena kita gegabah.
Bukan karena kita tidak mencari informasi.
Justru sebaliknya.
Kita sudah mencoba mencari sebanyak mungkin data, bertanya kepada banyak orang, melihat reputasi, mempertimbangkan risiko, bahkan mencari orang yang benar-benar mengetahui kondisi di dalam.
Lalu setelah semua itu dilakukan, kita mengambil keputusan.
Dan ketika keputusan itu akhirnya membawa kita kepada kenyataan yang berbeda, muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu:
Apakah dulu saya salah?
Saya mengalami itu ketika memutuskan memasukkan anak ke pondok pesantren.
Sejak awal saya mempunyai keyakinan sederhana.
Saya berpikir bahwa pondok merupakan salah satu tempat terbaik bagi seorang anak untuk belajar agama.
Bukan hanya belajar ilmu agama.
Tetapi juga belajar adab, kemandirian, kedisiplinan, kehidupan bersama, kebersihan, tanggung jawab, saling menghormati, dan berbagai nilai kehidupan yang selama ini saya pahami sebagai bagian dari nilai-nilai Islam.
Karena itu, keputusan memasukkan anak ke pondok bukan keputusan yang saya ambil secara spontan.
Saya berusaha melakukan seleksi.
Saya mencari informasi.
Saya mencari testimoni dari orang yang benar-benar pernah berhubungan dengan pondok tersebut.
Saya bahkan mencari relasi yang memang mengetahui kehidupan di dalamnya.
Saya mencoba melihat kualitas pendidikannya.
Saya mempertimbangkan keamanan.
Saya mempertimbangkan kenyamanan.
Saya mempertimbangkan lingkungan.
Saya mempertimbangkan ilmu yang akan diterima anak.
Dari seluruh informasi yang tersedia saat itu, saya merasa sudah cukup berhati-hati.
Pada titik itu, keputusan tersebut terasa benar.
Dan kalau saya kembali ke hari ketika keputusan itu dibuat, dengan data yang sama, mungkin saya tetap akan mengambil keputusan yang sama.
Namun empat puluh hari kemudian, saya mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tidak saya miliki.
Bukan data dari brosur.
Bukan data dari website.
Bukan data dari cerita orang.
Bukan data dari reputasi.
Tetapi data dari kehidupan sehari-hari seorang anak yang benar-benar tinggal di dalam sistem tersebut.
Dan di situlah cara berpikir saya mulai berubah.
Empat Puluh Hari yang Mengubah Cara Saya Melihat Pendidikan
Setelah kurang lebih empat puluh hari, ada waktu sambangan.
Bagi banyak orang tua, sambangan mungkin hanya dipahami sebagai waktu untuk bertemu anak setelah sekian lama tidak berjumpa.
Tetapi bagi saya, sambangan itu kemudian berubah menjadi sesuatu yang lain.
Ia menjadi titik di mana berbagai informasi yang sebelumnya tidak pernah terkumpul mulai muncul.
Saya mulai melihat bahwa kehidupan anak di dalam sebuah institusi pendidikan jauh lebih kompleks dibandingkan apa yang selama ini saya bayangkan.
Ada proses belajar. Ada kegiatan keagamaan. Ada pembentukan adab. Ada tata tertib.
Tetapi bersamaan dengan itu ada juga kehidupan manusia sehari-hari.
- persoalan kebersihan dan kerapian,
- kesehatan,
- hubungan antar-anak,
- konflik dan tekanan sosial,
- body shaming dan bullying,
- mekanisme pelaporan,
- respons pengurus,
- komunikasi dengan orang tua,
- serta bagaimana aturan benar-benar diterapkan ketika sebuah kejadian terjadi.
Hal-hal seperti ini ternyata tidak mudah dilihat dari luar.
Sebuah institusi dapat terlihat sangat baik ketika kita datang sebagai tamu. Jadwalnya teratur. Aturannya lengkap. Kurikulumnya jelas. Nilai-nilai yang dibawa pun baik.
Tetapi kehidupan manusia tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Ia berlangsung ketika anak bangun tidur, ketika mandi, ketika makan, ketika membersihkan kamar, ketika antre, ketika bercanda, ketika bertengkar, ketika sakit, ketika merasa takut, ketika merasa tidak nyaman, dan ketika membutuhkan pertolongan.
Dan justru di ruang-ruang seperti itulah sebuah sistem pendidikan benar-benar diuji.
Nilai yang Diajarkan Belum Tentu Menjadi Nilai yang Dijalankan
Saya masih melihat banyak hal yang baik.
Secara knowledge, saya menilai proses pendidikan agama yang diberikan sangat baik. Dalam persoalan adab dan etika, banyak hal juga diajarkan dengan sangat baik.
Dan saya tidak ingin menutup mata terhadap hal itu.
Karena tulisan ini bukan tentang mencari siapa yang salah. Bukan juga tentang menyimpulkan bahwa pondok pesantren adalah tempat yang buruk.
Justru pelajaran saya muncul karena saya melihat dua kenyataan yang dapat hadir secara bersamaan.
Sebuah institusi bisa sangat baik dalam mengajarkan ilmu. Tetapi pada saat yang sama, belum tentu sama kuatnya dalam mengelola seluruh kehidupan manusia yang ada di dalamnya.
Kita bisa mengajarkan bahwa kebersihan merupakan bagian dari nilai agama. Tetapi apakah sistem kebersihan benar-benar berjalan?
Kita bisa mengajarkan saling menghormati. Tetapi bagaimana ketika terjadi body shaming?
Kita bisa mempunyai larangan bullying. Tetapi bagaimana ketika bullying benar-benar terjadi?
Kita bisa mempunyai tata tertib. Tetapi apakah reward and punishment berjalan dengan konsisten?
Kita bisa memiliki banyak aturan. Tetapi apakah aturan tersebut benar-benar mempunyai konsekuensi?
Bagi saya, sebuah nilai belum selesai hanya karena ia tertulis di dinding atau berada di dalam buku aturan.
Nilai baru benar-benar hidup ketika sistem bertindak sesuai nilai tersebut pada saat nilai itu diuji.
Kebersihan baru benar-benar menjadi nilai ketika lingkungan yang kotor mendapatkan respons.
Saling menghormati baru menjadi nilai ketika penghinaan tidak dinormalisasi.
Perlindungan baru menjadi nilai ketika anak yang sedang berada dalam posisi lemah mempunyai tempat untuk meminta bantuan.
Keadilan baru menjadi nilai ketika aturan tidak hanya ada tetapi juga diterapkan.
Konflik Bukan Masalah Utamanya
Saya juga mulai melihat persoalan konflik dengan cara yang berbeda.
Dulu mungkin saya berharap sebuah lingkungan pendidikan agama dapat menjadi lingkungan yang relatif tenang dan tertib.
Tetapi semakin saya pikirkan, harapan bahwa tidak pernah ada konflik sebenarnya tidak realistis.
Ketika banyak manusia hidup bersama, konflik hampir pasti ada. Terlebih anak-anak dan remaja.
Ada perbedaan karakter. Ada ego. Ada proses pencarian identitas. Ada kompetisi. Ada salah paham. Ada candaan. Ada emosi yang belum matang.
Jadi persoalannya bukan lagi:
Apakah di tempat ini ada konflik?
Pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting adalah:
Apa yang dilakukan sistem ketika konflik terjadi?
Apakah masalah terdeteksi? Apakah anak mempunyai ruang aman untuk berbicara? Apakah laporan didengar? Apakah ada verifikasi? Apakah ada mediasi? Apakah ada pembinaan? Apakah orang tua mendapatkan informasi? Apakah ada evaluasi? Apakah kejadian yang sama dicegah agar tidak berulang?
Di titik inilah saya mulai memahami bahwa kualitas sebuah institusi pendidikan tidak dapat dinilai hanya dari seberapa bagus ilmu yang diajarkan.
Ada kemampuan lain yang sama pentingnya.
Saya menyebutnya sebagai kematangan dalam mengelola konflik sosial.
Karena konflik dapat terjadi di mana saja. Tetapi cara sebuah sistem mengelola konflik menunjukkan seberapa matang sistem tersebut menjaga manusia yang berada di dalamnya.
Ketika Bullying Dianggap Biasa
Ada bagian lain yang cukup mengganggu cara berpikir saya.
Bullying.
Saya memahami bahwa perilaku anak-anak tidak pernah sepenuhnya steril dari kesalahan.
Anak dapat mengejek. Anak dapat bertengkar. Anak dapat mengatakan sesuatu tanpa memahami dampaknya.
Tetapi saya mulai melihat ada persoalan yang lebih besar ketika perilaku-perilaku tersebut dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
“Namanya juga anak-anak.”
“Namanya juga remaja.”
“Mereka sedang belajar.”
Kalimat seperti itu pada satu sisi memang benar.
Anak memang sedang belajar. Remaja memang masih mencari bentuk dirinya.
Tetapi jika semua perilaku kemudian dimasukkan ke dalam kategori kenakalan biasa, ada risiko lain.
Sesuatu yang seharusnya dikoreksi perlahan-lahan menjadi normal.
Candaan yang menyakitkan menjadi biasa. Body shaming menjadi biasa. Intimidasi menjadi biasa. Tekanan sosial menjadi biasa.
Dan akhirnya korban diminta untuk beradaptasi dengan lingkungan yang sebenarnya sedang menyakitinya.
Di titik itu, masalahnya tidak lagi hanya berada pada anak yang melakukan.
Masalahnya mulai berpindah kepada sistem yang membiarkan perilaku tersebut menjadi budaya.
Sebuah institusi tentu tidak mungkin menjamin bahwa bullying tidak pernah terjadi.
Tetapi sebuah institusi seharusnya mampu membedakan antara konflik biasa, candaan, kenakalan, intimidasi, tekanan sosial, body shaming, dan bullying.
Karena cara menanganinya tentu tidak dapat disamakan.
Jadi, Di Mana Letak Kesalahan Saya?
Setelah melihat berbagai fakta itu, saya sempat bertanya kepada diri sendiri.
Apakah saya salah memasukkan anak ke pondok?
Semakin saya pikirkan, saya merasa jawabannya tidak sesederhana itu.
Karena ketika keputusan tersebut dibuat, saya menggunakan informasi terbaik yang tersedia.
Saya sudah berusaha melakukan seleksi. Saya sudah berusaha mencari validasi. Saya sudah berusaha berhati-hati.
Maka kesalahan saya sebenarnya bukan hanya tentang memilih tempat.
Kesalahan saya ada pada model berpikir yang saya gunakan ketika memilih.
Saya dulu mempunyai asumsi:
Jika sebuah tempat kuat dalam pendidikan agama, maka nilai-nilai yang berasal dari agama akan ikut kuat dalam kehidupan sehari-harinya.
Ternyata asumsi itu belum tentu benar.
Ilmu adalah satu sistem. Pengajaran adalah satu sistem. Pengasuhan adalah sistem lain. Kebersihan membutuhkan sistem. Kesehatan membutuhkan sistem. Keamanan membutuhkan sistem. Manajemen konflik membutuhkan sistem. Komunikasi dengan orang tua membutuhkan sistem. Perlindungan terhadap anak juga membutuhkan sistem.
Semuanya tidak otomatis hadir hanya karena suatu institusi membawa nilai yang baik.
Dan saya baru memasukkan variabel-variabel itu setelah mendapatkan data dari kehidupan nyata.
Maka keputusan saya yang dulu terasa benar, hari ini terlihat tidak lengkap.
Bukan karena seluruh keputusan itu salah. Tetapi karena pemahaman saya saat itu belum mempunyai cukup variabel.
Dan mungkin memang seperti itulah sebagian besar kesalahan kita terjadi.
Kita mengambil keputusan dengan peta yang kita miliki.
Kemudian kehidupan memberikan wilayah baru yang sebelumnya belum pernah tergambar di dalam peta tersebut.
Saya Dulu Bertanya: Apa yang Akan Dipelajari Anak Saya?
Setelah pengalaman ini, saya menyadari bahwa selama ini pertanyaan saya ketika memilih sekolah atau pondok lebih banyak berkaitan dengan pembelajaran.
Apa yang akan dipelajari? Siapa gurunya? Bagaimana kurikulumnya? Bagaimana pendidikan agamanya? Bagaimana kedisiplinannya? Bagaimana adabnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu tetap penting.
Tetapi sekarang ada pertanyaan lain yang menurut saya tidak kalah penting.
Di lingkungan seperti apa anak saya akan hidup setiap hari?
Karena anak tidak hanya belajar ketika duduk di depan guru.
Anak belajar ketika melihat bagaimana orang dewasa menangani masalah.
Anak belajar ketika melihat bagaimana seorang teman yang lemah diperlakukan.
Anak belajar ketika melihat apakah aturan benar-benar ditegakkan.
Anak belajar ketika dirinya sakit.
Anak belajar ketika dirinya merasa takut.
Anak belajar ketika membutuhkan pertolongan.
Anak belajar ketika suaranya didengar atau diabaikan.
Artinya, ada kurikulum yang tertulis.
Tetapi ada juga kurikulum yang hidup.
Dan sering kali kurikulum yang hidup mempunyai pengaruh jauh lebih kuat daripada apa yang tertulis di buku.
Mental dan Agama Ternyata Tidak Bisa Saya Pisahkan
Dari seluruh pengalaman ini, ada satu perubahan cara berpikir yang paling besar bagi saya.
Dulu saya cenderung berpikir bahwa pendidikan agama merupakan salah satu kebutuhan utama yang harus diperkuat.
Dan sampai hari ini saya masih percaya itu.
Tetapi sekarang saya mempunyai tambahan pemahaman.
Saya tidak lagi melihat pendidikan agama sebagai sesuatu yang dapat berdiri sendiri tanpa memperhatikan kondisi mental manusia yang sedang belajar.
Karena agama dan kesehatan mental bukan dua hal yang sedang berlomba untuk menjadi lebih penting.
Keduanya adalah pasangan.
Keduanya saling membutuhkan.
Seseorang yang berada dalam kondisi aman akan mempunyai ruang lebih besar untuk belajar.
Seseorang yang merasa dihargai akan lebih mudah menerima nilai.
Seseorang yang tidak terus-menerus hidup dalam tekanan akan mempunyai ruang untuk berpikir.
Sebaliknya, seseorang yang berada dalam ketakutan, tekanan sosial, sakit, atau merasa tidak aman akan menghabiskan banyak energi hanya untuk bertahan.
Dalam kondisi seperti itu, proses belajar apa pun menjadi lebih berat.
Termasuk belajar agama.
Bukan karena agamanya kurang baik.
Tetapi karena manusia yang sedang menerima pembelajaran itu sedang berjuang menjaga dirinya sendiri.
Agama memberikan nilai. Memberikan batas. Memberikan orientasi. Memberikan makna.
Mengajarkan hubungan manusia dengan Allah SWT.
Mengajarkan hubungan manusia dengan manusia lain.
Tetapi kesehatan mental membantu seseorang mempunyai kapasitas untuk menerima, memahami, dan menjalankan nilai tersebut.
Keduanya tidak perlu dipisahkan.
Justru keduanya harus tumbuh bersama.
Benih yang Baik Membutuhkan Tanah yang Dijaga
Saya membayangkan pendidikan agama seperti sebuah benih.
Benih itu baik.
Kita ingin menanamkannya kepada anak. Kita ingin ia tumbuh. Kita ingin suatu hari menghasilkan sesuatu yang baik dalam kehidupannya.
Tetapi benih tidak tumbuh sendirian.
Ia membutuhkan tanah. Membutuhkan air. Membutuhkan cahaya. Membutuhkan perlindungan. Membutuhkan perawatan.
Kondisi mental adalah salah satu bagian dari tanah tersebut.
Kalau tanahnya terus berada dalam tekanan, proses pertumbuhan tentu menjadi berbeda.
Kalau anak terus merasa takut, tidak aman, tertekan, sakit, atau tidak mempunyai tempat untuk berbicara, maka ruang untuk bertumbuh ikut menyempit.
Bukan berarti tanah lebih penting daripada benih.
Dan bukan berarti benih lebih penting daripada tanah.
Pertanyaan seperti itu justru tidak relevan.
Karena tujuan kita bukan menentukan mana yang paling penting.
Tujuan kita adalah membuat keduanya bekerja bersama.
Menjaga mental juga bagian dari ikhtiar agar nilai agama dapat tumbuh dengan sehat.
Pendidikan Tidak Cukup Mengisi Kepala
Saya juga mulai mengubah cara melihat tujuan pendidikan.
Pendidikan bukan hanya proses memasukkan pengetahuan ke dalam kepala.
Anak bukan wadah kosong yang harus diisi sebanyak mungkin ilmu.
Ia adalah manusia.
Ia mempunyai tubuh. Mempunyai emosi. Mempunyai rasa takut. Mempunyai harga diri. Mempunyai kebutuhan untuk diterima. Mempunyai kebutuhan untuk dihargai. Mempunyai batas kemampuan menghadapi tekanan. Dan mempunyai perjalanan spiritualnya sendiri.
Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya bertanya:
Seberapa banyak yang anak ketahui?
Tetapi juga:
Manusia seperti apa yang sedang tumbuh melalui seluruh proses ini?
Apakah ia semakin memahami nilai? Apakah ia semakin mampu menghormati orang lain? Apakah ia semakin mempunyai empati? Apakah ia semakin mampu menjaga dirinya?
Apakah ia semakin merasa bahwa agama adalah tempat bertumbuh atau justru menjadi sesuatu yang diasosiasikan dengan tekanan?
Pertanyaan terakhir ini bagi saya sangat penting.
Karena saya ingin anak belajar agama bukan hanya karena kewajiban.
Saya ingin agama menjadi sesuatu yang tumbuh bersama pengalaman hidup yang sehat.
Menjadi sumber nilai. Menjadi sumber arah. Menjadi tempat kembali.
Bukan menjadi memori tentang tekanan yang pernah dialami ketika mempelajarinya.
Kesalahan Tidak Selalu Harus Disesali
Akhirnya saya kembali kepada satu pertanyaan.
Kalau hari ini saya mempunyai pemahaman yang berbeda, apakah artinya keputusan saya dahulu salah?
Mungkin iya.
Tetapi saya mulai mempunyai definisi yang berbeda tentang kata salah.
Kesalahan tidak selalu berarti kita ceroboh.
Kadang kita salah karena data yang kita miliki belum lengkap.
Kadang kita salah karena variabel yang kita gunakan terlalu sedikit.
Kadang kita baru mengetahui sesuatu setelah menjalaninya.
Dan saya rasa itu tidak perlu selalu direspons dengan penyesalan.
Yang jauh lebih penting adalah:
Apa yang kita lakukan setelah mendapatkan data baru?
Apakah kita mempertahankan keputusan lama hanya karena tidak ingin mengakui bahwa asumsi kita kurang tepat?
Atau kita bersedia memperbarui pemahaman?
Bagi saya, keputusan yang baik bukan keputusan yang tidak pernah berubah.
Keputusan yang baik adalah keputusan yang mampu berubah ketika fakta baru memang menuntut perubahan.
Saya mengambil keputusan dahulu berdasarkan data yang saya miliki saat itu.
Sekarang saya mempunyai data yang lebih banyak.
Maka sudah sewajarnya cara berpikir saya juga berubah.
Dan mungkin di situlah proses belajar sebenarnya terjadi.
Standar Baru Saya dalam Melihat Pendidikan
Hari ini, ketika melihat sebuah institusi pendidikan, saya tidak lagi hanya bertanya tentang kurikulum.
Saya juga tidak hanya melihat prestasi. Tidak hanya melihat fasilitas. Tidak hanya mendengarkan reputasi. Dan tidak hanya melihat nilai apa yang mereka nyatakan.
Saya ingin mengetahui hal-hal yang mungkin jauh lebih sulit terlihat.
- Apa yang terjadi ketika seorang anak sakit?
- Apa yang dilakukan ketika seorang anak mendapat tekanan dari temannya?
- Bagaimana institusi menangani bullying?
- Apakah orang tua diberi informasi ketika kondisi anak berubah?
- Bagaimana kebersihan benar-benar dikelola?
- Bagaimana konflik diselesaikan?
- Bagaimana aturan diterapkan?
- Apa yang terjadi ketika pengurus melakukan kesalahan?
- Apakah anak mempunyai ruang untuk berbicara?
- Apakah kritik dipandang sebagai ancaman atau sebagai data untuk memperbaiki sistem?
Karena semakin saya belajar, semakin saya memahami bahwa kualitas sebuah institusi pendidikan tidak hanya dapat dibaca dari apa yang diajarkannya.
Kita juga harus melihat bagaimana institusi tersebut memperlakukan manusia ketika tidak semuanya berjalan ideal.
Justru pada saat terjadi masalah, karakter sebuah sistem terlihat jauh lebih jelas.
Saya Masih Percaya pada Pendidikan Agama
Setelah semua pengalaman ini, saya tidak kemudian kehilangan kepercayaan terhadap pendidikan agama.
Saya juga tidak kehilangan kepercayaan terhadap pondok pesantren.
Saya masih percaya ada banyak pondok yang menjadi tempat luar biasa bagi anak-anak untuk bertumbuh.
Ada guru-guru yang mengabdikan hidupnya. Ada pengurus yang bekerja dengan sungguh-sungguh. Ada sistem yang terus memperbaiki diri. Ada anak-anak yang mendapatkan perubahan hidup sangat baik dari lingkungan tersebut.
Tetapi pengalaman ini membuat saya tidak lagi memandang sebuah institusi hanya dari labelnya.
Tidak ada label yang otomatis menjamin sebuah sistem sempurna.
Sekolah umum tidak otomatis buruk. Sekolah agama tidak otomatis sempurna. Pondok tidak otomatis menjadi tempat terbaik. Rumah juga tidak otomatis menjadi tempat paling aman.
Pada akhirnya semua kembali kepada bagaimana manusia membangun dan menjalankan sistem.
Dan mungkin inilah bagian dari proses saya belajar salah.
Dulu saya mencari tempat terbaik bagi anak untuk belajar agama.
Sekarang saya belajar mencari sesuatu yang lebih utuh.
Karena seorang anak bukan hanya otak yang harus diisi ilmu.
Ia bukan hanya tubuh yang harus mengikuti aturan.
Ia bukan hanya santri yang harus mampu menyesuaikan diri.
Ia adalah manusia yang sedang bertumbuh.
Dan manusia membutuhkan ilmu sekaligus rasa aman.
Membutuhkan aturan sekaligus ruang untuk didengar.
Membutuhkan disiplin sekaligus perlindungan.
Membutuhkan agama sekaligus kondisi mental yang dijaga.
Keduanya bukan dua pilihan.
Bukan pula dua kebutuhan yang harus kita pertandingkan.
Mental memberikan ruang agar manusia dapat bertumbuh.
Agama memberikan arah agar pertumbuhan itu mempunyai makna.
Dan mungkin pelajaran saya kali ini sederhana:
Saya dulu mengira memilih tempat yang tepat untuk belajar agama sudah cukup.
Ternyata saya salah.
Saya sekarang belajar bahwa yang harus kita jaga bukan hanya ilmu apa yang masuk ke dalam diri seorang anak.
Kita juga harus menjaga manusia tempat ilmu itu bertumbuh.