Sebuah Renungan tentang Kecerdasan dan Kemanusiaan
Ada momen di mana kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia kerja kita?
Kita bekerja lebih cepat dari sebelumnya, keputusan diambil berdasarkan data, dan hampir setiap proses kini dibantu oleh kecerdasan buatan. Namun di antara efisiensi dan otomatisasi itu, muncul ruang kosong yang perlahan membesar — ruang tempat empati, penghargaan, dan makna kerja dulu bernaung.
Laporan Kumparan Indonesia AI Report 2025 membuka jendela tentang bagaimana publik kini hidup berdampingan dengan AI. Sebanyak 96% masyarakat menyadari bahwa layanan digital yang mereka gunakan sudah berbasis AI, dan 68% mengaku bergantung padanya dalam aktivitas harian. Namun di sisi lain, pemahaman terhadap cara kerja AI masih dangkal, hanya sampai di permukaan istilah “algoritma” atau “machine learning”, tanpa benar-benar memahami struktur yang menggerakkannya.
Angka-angka ini menarik — sekaligus menegangkan.
Kita hidup di antara dua ekstrem: kecerdasan yang terus meningkat, dan kesadaran yang justru melambat.
Kita makin pandai menggunakan teknologi, tapi makin jarang benar-benar memahami satu sama lain.
AI Mengubah Dunia Kerja, Tapi Tidak Bisa Mengubah Hati
Laporan yang sama menemukan bahwa 57% pekerja di Indonesia telah menggunakan chatbot AI generatif dalam pekerjaannya — entah untuk menulis, menganalisis data, atau menciptakan ide. 91% merasa AI membantu produktivitas mereka, dan sebagian besar melihatnya sebagai hal positif. Tetapi di balik produktivitas yang meningkat, ada tanda-tanda lain yang sering luput dibaca: percakapan antar-manusia yang menipis, apresiasi yang berkurang, dan kelelahan emosional yang meningkat karena dunia kerja menjadi lebih sunyi secara batin.
Kita lupa bahwa pekerjaan bukan hanya soal menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang merasakan keterhubungan.
Tentang menyapa rekan kerja, mendengarkan kisahnya, atau mengucapkan terima kasih tanpa alasan produktif.
AI dapat mengoptimalkan proses, tapi tidak bisa menggantikan rasa lega yang lahir dari kalimat sederhana: “Aku mengerti, kamu tidak sendiri.”
Dan mungkin di situlah letak paradoks besar era ini:
Kita sedang membangun sistem yang semakin cerdas, tapi belum tentu semakin bijak.
Paradigma Baru: Dari Artificial Intelligence ke Authentic Intention
Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa 87% publik percaya AI akan mengubah cara manusia berinteraksi sosial.
Kita hidup di masa di mana bahkan hubungan manusia dipandu algoritma — dari siapa yang muncul di beranda media sosial hingga bagaimana kita memutuskan pasangan, pekerjaan, atau selera hiburan.
Namun ironisnya, semakin “dipersonalisasi” pengalaman kita, semakin banyak orang merasa terasing secara emosional.
Kecerdasan buatan adalah alat yang luar biasa — ia dapat membantu manusia berpikir lebih cepat.
Tapi niat baik (authentic intention) adalah sesuatu yang hanya bisa lahir dari kesadaran yang lambat.
Kindness, atau kebaikan hati, bukanlah fitur dalam sistem; ia adalah keputusan sadar untuk tetap manusia di tengah sistem yang makin otomatis.
Bayangkan dua jenis kecerdasan yang hidup berdampingan di dunia kerja masa depan:
-
Artificial Intelligence (AI): yang mengolah data, membuat prediksi, dan menciptakan efisiensi.
-
Authentic Intention (AI): yang menumbuhkan empati, mendengar tanpa menghakimi, dan menghargai proses.
Kedua-duanya dibutuhkan. Tapi hanya yang kedua yang membuat pekerjaan terasa bermakna.
Fakta yang Membuka Mata: Manusia Masih Ingin Dihargai
Meski teknologi AI berkembang pesat, manusia tetap mencari ruang emosional di tengah digitalisasi.
Kumparan mencatat bahwa 63% publik menilai penerapan etika AI di Indonesia sudah memadai, tetapi kekhawatiran terbesar mereka bukan soal teknis — melainkan soal penyamaran identitas (deepfake) dan penyalahgunaan data pribadi (62%).
Artinya, masyarakat bukan takut pada mesin itu sendiri, tapi pada hilangnya kepercayaan di antara manusia.
Di sini, kindness menemukan urgensinya kembali.
Kebaikan di tempat kerja bukan lagi sekadar sikap moral, melainkan strategi keberlangsungan sosial.
Ketika kepercayaan menjadi komoditas langka, niat baik menjadi mata uang paling berharga.
Senyum tulus, ucapan terima kasih, atau empati dalam mendengar — bukan lagi “soft skill”, melainkan human infrastructure yang menjaga organisasi tetap bernapas di tengah gelombang automasi.
Bekerja dengan Data, Bergerak dengan Kesadaran
Data bisa menuntun kita pada arah, tapi hanya kesadaran yang bisa menentukan tujuan.
Angka-angka dalam laporan itu menegaskan: 73% publik berharap adanya pelatihan keterampilan AI, namun yang sebenarnya kita butuhkan bukan hanya digital upskilling, melainkan emotional reskilling.
Belajar mengenali rasa, memahami keterbatasan, dan menumbuhkan empati — itulah keterampilan masa depan yang tak bisa diajarkan algoritma.
Mungkin inilah saatnya mengubah paradigma produktivitas:
Dari bekerja lebih cepat, menjadi bekerja lebih sadar.
Dari menguasai teknologi, menjadi menggunakan teknologi untuk memperdalam kemanusiaan.
Kebaikan sebagai Infrastruktur Sosial di Era Digital
AI akan terus berkembang — lebih cepat, lebih presisi, lebih pintar.
Namun, laporan ini secara halus mengingatkan: tanpa kebijaksanaan manusia, kecerdasan buatan hanya akan mempercepat kekacauan.
Etika, empati, dan penghargaan terhadap sesama adalah batas pelindung agar transformasi digital tidak menggerus inti kemanusiaan kita.
Organisasi yang ingin bertahan dalam era ini perlu membangun budaya kerja yang kindness-driven:
-
Memberi ruang bagi refleksi, bukan hanya hasil.
-
Menghargai waktu istirahat, bukan hanya jam lembur.
-
Mengukur keberhasilan bukan hanya dari target, tetapi juga dari kualitas relasi di dalam tim.
Sebab perusahaan masa depan bukan yang paling cepat mengadopsi AI,
melainkan yang paling berhasil mengintegrasikan nilai kemanusiaan di tengah kecerdasan buatan.
Penutup: Saatnya Menjadi Manusia yang Lebih Utuh
Kita sedang menyaksikan era baru di mana mesin belajar lebih cepat daripada manusia.
Namun, jika manusia belajar mencintai lebih dalam, dunia ini tetap akan punya arah.
Kindness at Work bukan konsep lembut yang romantis — ia adalah strategi bertahan hidup dalam ekosistem algoritmik.
Di tengah data yang berlimpah, justru kesadaranlah yang langka.
Dan barangkali, masa depan tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling pintar menggunakan AI,
melainkan oleh siapa yang paling tulus menggunakan hatinya.