Ada sebuah kejadian kecil yang sampai hari ini masih saya ingat.
Sebuah kejadian sederhana. Mungkin bagi sebagian orang tidak memiliki arti apa-apa. Hanya seorang anak, secarik kertas, dan beberapa coretan.
Tetapi bertahun-tahun kemudian saya justru menyadari bahwa dari secarik kertas itulah saya belajar sesuatu tentang manusia.
Tentang keyakinan.
Tentang keberanian.
Dan tentang bagaimana seseorang terkadang harus percaya terlebih dahulu sebelum mampu melihat jalan yang akan dilaluinya.
Saat itu seorang junior saya menunjukkan sebuah gambar yang dia buat.
Saya melihat kertas tersebut.
Ada beberapa coretan di atasnya. Kalau menggunakan logika orang dewasa, saya mungkin akan kesulitan mengatakan bahwa coretan tersebut menggambarkan sesuatu secara jelas.
Kemudian saya bertanya,
“Ini gambar apa?”
Dengan sangat yakin dia menjawab,
“Ini paus.”
Saya melihat kembali gambar itu.
Paus?
Kalau menggunakan ukuran saya sebagai orang dewasa, mungkin tidak terlihat seperti paus.
Saya bisa saja mengoreksi.
Saya bisa saja mengatakan,
“Bukan, paus tidak seperti ini.”
Atau bahkan tertawa dan menganggapnya sebagai gambar anak kecil yang belum selesai.
Tetapi saya memilih untuk percaya.
Kalau dia yakin bahwa itu adalah gambar paus, maka bagi saya saat itu itu adalah paus.
Bukan karena saya tidak memahami kenyataan.
Bukan pula karena saya ingin membenarkan sesuatu yang salah.
Saya hanya merasa bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada ketepatan sebuah gambar.
Yaitu kepercayaan seorang manusia terhadap sesuatu yang ada di dalam pikirannya.
Hari itu mungkin dia sedang menggambar paus.
Tetapi tanpa saya sadari, mungkin dia juga sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar dalam dirinya:
Believe system.

Sebelum Kita Mengenal Strategi
Semakin lama saya menjalani kehidupan, semakin saya memahami bahwa manusia sebenarnya memiliki banyak aset.
Kita memiliki ilmu.
Kita memiliki pengalaman.
Kita memiliki jaringan.
Kita memiliki kemampuan.
Sekarang kita bahkan memiliki teknologi yang luar biasa.
Kita memiliki internet, data, artificial intelligence, otomatisasi, dan berbagai alat yang mampu membuat manusia melakukan sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu berbulan-bulan menjadi hanya beberapa jam.
Dalam bisnis kita belajar strategi. Dalam organisasi kita membangun sistem. Dalam pemasaran kita membaca data. Dalam teknologi kita membuat mesin.
Semuanya penting.
Tetapi semakin lama saya justru percaya bahwa ada satu aset yang harus hadir sebelum semuanya.
Believe system.
Sebab teknologi hanya bisa membantu orang yang mau menggunakannya.
Strategi hanya bisa bekerja ketika ada manusia yang bersedia menjalankannya.
Ilmu hanya akan memberikan manfaat ketika seseorang percaya bahwa dirinya masih bisa belajar.
Dan kesempatan hanya memiliki arti bagi mereka yang percaya bahwa kesempatan tersebut layak diperjuangkan.
Sebelum seseorang mampu membangun sesuatu di dunia nyata, sering kali dia harus terlebih dahulu membangunnya di dalam pikirannya.
“Saya bisa.” — “Saya akan mencoba.” — “Saya mungkin belum tahu caranya, tetapi saya akan mempelajarinya.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu mungkin terdengar sepele.
Tetapi dari situlah langkah pertama sering kali dimulai.
Anak yang Menggambar Paus Itu Kemudian Tumbuh
Waktu berjalan.
Anak yang dahulu dengan begitu yakin mengatakan bahwa coretan di atas kertasnya adalah seekor paus itu kemudian tumbuh.
Dan pada suatu titik dalam kehidupannya, dia harus menghadapi sebuah ujian.
Bukan lagi ujian menggambar. Bukan lagi tentang apakah sebuah coretan bisa disebut paus atau bukan.
Kali ini adalah ujian nyata yang akan menentukan langkah berikutnya dalam kehidupannya.
Dia ingin mengikuti sebuah ujian masuk sekolah.
Persaingannya tidak mudah.
Dan seperti yang sering terjadi dalam kehidupan, ketika seseorang ingin mencoba sesuatu yang dianggap berada di luar kemampuannya, akan selalu ada suara-suara dari luar.
Ada yang meragukan. Ada yang mengatakan peluangnya terlalu kecil. Ada yang mungkin melihat kemampuan, persaingan, angka, atau berbagai kondisi lainnya kemudian mengambil kesimpulan:
“Sulit.” — “Sepertinya tidak akan bisa.” — “Jangan terlalu berharap.”
Bahkan mungkin ada seribu orang yang mengatakan dia tidak akan mampu melewati ujian tersebut.
Tetapi ada dua pihak yang tetap percaya.
Dirinya sendiri dan orang tuanya.
Orang tuanya percaya bahwa dia mampu.
Dan yang lebih penting, dia sendiri juga percaya bahwa dirinya mampu.
Saya melihat kembali pola yang pernah saya lihat bertahun-tahun sebelumnya.
Anak yang dahulu melihat paus ketika saya hanya melihat coretan di atas kertas, sekarang melihat kemungkinan ketika banyak orang hanya melihat kesulitan.
Situasinya berbeda. Tetapi keyakinannya ternyata masih sama.
Ketika Banyak Orang Berkata Tidak Bisa
Bayangkan berada dalam posisi itu.
Ketika orang-orang di sekitar kita mengatakan bahwa sesuatu terlalu sulit. Ketika secara statistik peluang kita terlihat kecil. Ketika orang lain mungkin memiliki kemampuan lebih baik. Ketika kita sendiri sebenarnya juga tidak pernah mendapatkan jaminan bahwa perjuangan tersebut akan berhasil.
Pada kondisi seperti itu, manusia mempunyai dua pilihan.
Percaya kepada ketakutannya. Atau memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk mencoba.
Junior saya memilih yang kedua.
Dia mengikuti ujian tersebut. Dia belajar. Dia mempersiapkan dirinya. Dia masuk ke ruang ujian dengan membawa sesuatu yang mungkin tidak bisa dihitung menggunakan angka:
keyakinan bahwa dirinya mampu.
Apakah keyakinan tersebut menjamin kelulusan? Tidak.
Apakah percaya diri otomatis membuat semua jawaban menjadi benar? Tentu tidak.
Believe system bukan sihir. Believe system tidak menggantikan belajar. Believe system tidak menggantikan kemampuan. Believe system tidak menggantikan kerja keras.
Tetapi believe system memberikan alasan kepada manusia untuk mencoba.
Dan terkadang itulah pembeda terbesar.
Karena orang yang percaya bahwa dirinya mungkin berhasil akan belajar. Orang yang percaya bahwa ada jalan akan mencarinya. Orang yang percaya dirinya bisa berkembang akan memperbaiki kekurangannya.
Sebaliknya, orang yang sudah mengatakan “saya tidak bisa” bahkan sebelum mencoba, sering kali tidak pernah mengetahui seberapa jauh sebenarnya dia mampu berjalan.

Dan Dia Lolos
Kemudian hasil ujian itu keluar.
Dia berhasil. Dia benar-benar lolos dari ujian yang sebelumnya diragukan banyak orang.
Saya tidak melihat keberhasilan itu sebagai pembuktian bahwa orang lain salah. Bagi saya bukan itu pelajarannya.
Karena orang yang meragukannya mungkin memiliki alasan berdasarkan apa yang mereka lihat saat itu.
Mereka melihat tingkat kesulitan. Mereka melihat persaingan. Mereka melihat risiko kegagalan.
Dan mungkin mereka mengatakan semua itu karena tidak ingin dia kecewa.
Tetapi ada sesuatu yang tidak mereka miliki.
Mereka tidak berada di dalam dirinya. Mereka tidak mengetahui seberapa besar dia ingin mencoba. Mereka tidak mengetahui seberapa keras dia akan belajar.
Dan yang paling penting:
Mereka tidak mengetahui batas kemampuan seseorang yang belum benar-benar mencoba.
Di situlah saya mendapatkan satu pelajaran yang sampai hari ini saya pegang.
Kegagalan yang paling pasti adalah ketika kita benar-benar tidak ingin mencobanya.
Ketika kita mencoba, hasilnya memang masih memiliki dua kemungkinan. Berhasil atau belum berhasil.
Tetapi ketika kita memilih tidak mencoba sama sekali, kita sendiri yang menutup kemungkinan keberhasilan tersebut.
Tidak mencoba memberikan kepastian.
Kita tidak akan sampai.
Saya Tidak Mengajarkan untuk Nekat
Namun saya juga tidak ingin believe system kemudian diterjemahkan sebagai kenekatan.
Percaya bahwa kita mampu bukan berarti mengabaikan kenyataan.
Saya tidak percaya pada kalimat motivasi yang hanya mengatakan, “pokoknya yakin, pasti bisa.” Tidak sesederhana itu.
Kalau kita belum memiliki kemampuan, belajar. Kalau kita belum memiliki pengalaman, berlatih. Kalau kita tidak memiliki data, cari data. Kalau strategi kita salah, perbaiki. Kalau percobaan pertama gagal, evaluasi. Kalau tidak tahu, bertanya.
Believe system bukan pengganti semua itu.
Justru believe system adalah bahan bakar yang membuat kita bersedia melakukan semua itu.
Orang yang percaya bahwa dirinya bisa berkembang akan bersedia belajar. Orang yang percaya bahwa masalah bisa diselesaikan akan mencari solusi. Orang yang percaya bahwa kegagalan bukan akhir akan melakukan percobaan berikutnya.
Maka bagi saya urutannya bukan:
Teknologi → Strategi → Manusia.
Tetapi:
Manusia → Keyakinan → Pengetahuan → Strategi → Teknologi → Tindakan.
Teknologi datang kemudian. Strategi datang kemudian. Karena pada akhirnya semua alat itu tetap membutuhkan manusia yang memiliki alasan untuk bergerak.
Jalan Tidak Selalu Terlihat dari Awal
Ada hal lain yang kemudian saya pelajari dari perjalanan hidup.
Sering kali kita ingin mengetahui seluruh jalan sebelum mulai berjalan.
Kita ingin kepastian. Kita ingin mengetahui apakah bisnis yang kita bangun akan berhasil. Kita ingin mengetahui apakah sekolah yang kita pilih akan menerima kita. Kita ingin mengetahui apakah ide yang kita perjuangkan akan diterima orang. Kita ingin mengetahui apakah keputusan yang kita ambil hari ini akan membawa kita ke tempat yang benar lima tahun lagi.
Masalahnya, kehidupan jarang memberikan kepastian seperti itu.
Ada jalan yang baru terlihat setelah kita berjalan. Ada orang yang baru kita temui setelah kita berangkat. Ada ilmu yang baru kita pahami setelah kita melakukan kesalahan. Ada kesempatan yang baru muncul setelah kita berani mengetuk pintu pertama.
Bahkan terkadang jalan yang terbuka sama sekali berbeda dengan jalan yang kita rencanakan.
Karena itu saya mulai percaya:
Di mana ada niat baik, di situ selalu ada alasan untuk tetap mencari jalan agar bisa melangkah maju.
Bukan berarti setiap keinginan kita akan dikabulkan persis seperti yang kita minta. Bukan berarti setiap perjalanan akan mudah. Dan bukan berarti manusia bisa memaksakan kehendaknya kepada kehidupan.
Pada akhirnya kita tetap manusia. Kita merencanakan. Kita belajar. Kita berusaha. Kita mencoba. Kita berdoa.
Sedangkan hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah SWT.
Antara Keyakinan, Ikhtiar, dan Allah SWT
Semakin dewasa, saya justru semakin memahami bahwa believe system bukan tentang menjadikan manusia merasa memiliki kuasa atas segala sesuatu.
Justru sebaliknya.
Believe system membuat saya memahami batas antara apa yang menjadi tanggung jawab manusia dan apa yang menjadi kuasa Allah SWT.
Tugas saya adalah mencoba. Tugas saya adalah belajar. Tugas saya adalah bekerja. Tugas saya adalah memperbaiki kesalahan. Tugas saya adalah menjaga niat. Tugas saya adalah berdoa.
Tetapi saya tidak pernah memiliki kuasa untuk memaksa hasil.
Hasil tetap milik Allah SWT.
Dan mungkin di situlah ketenangan berada.
Saya tidak harus mengetahui seluruh perjalanan. Saya hanya harus memastikan bahwa langkah yang saya ambil hari ini adalah langkah terbaik yang mampu saya lakukan.
Kalau berhasil, saya bersyukur kepada Allah SWT. Kalau belum berhasil, saya belajar. Kalau jalannya tertutup, saya mencari jalan lain. Kalau harus kembali, saya kembali dengan membawa pengetahuan yang sebelumnya tidak saya miliki.
Karena kegagalan setelah mencoba masih memberikan sesuatu kepada kita.
Pengalaman. Pengetahuan. Ketahanan. Kesadaran.
Bahkan terkadang kegagalan menunjukkan bahwa ada jalan lain yang lebih tepat.
Tetapi tidak mencoba? Tidak mencoba tidak memberikan kita kesempatan untuk mengetahui apa yang sebenarnya mungkin terjadi.
Ada Hal yang Memang Bukan Wilayah Manusia
Saya pernah mendengar sebuah pemikiran yang terus saya ingat.
Ada hal-hal yang memang tidak berada dalam wilayah kemampuan manusia.
Manusia tidak dapat menggantikan Allah SWT. Manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubah kebenaran wahyu Allah SWT dalam Al-Qur’an. Dan manusia tidak memiliki kuasa untuk menentukan bahwa kematian tidak akan datang ketika Allah SWT telah menetapkannya.
Ada wilayah yang sepenuhnya merupakan kuasa Allah SWT.
Tetapi justru karena kita memahami bahwa ada wilayah yang bukan milik manusia, kita juga seharusnya memahami bahwa ada wilayah yang menjadi tanggung jawab kita.
Ikhtiar.
Selama Allah SWT masih memberikan kehidupan, berarti masih ada kesempatan untuk melakukan sesuatu.
Masih ada kesempatan untuk belajar. Masih ada kesempatan untuk berubah. Masih ada kesempatan untuk meminta maaf. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Masih ada kesempatan untuk membangun. Masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.
Kita tidak mengetahui apa yang akan Allah SWT bukakan dari satu langkah kecil yang kita ambil hari ini.
Mungkin Masalahnya Bukan Tidak Bisa
Sejak itu saya menjadi lebih berhati-hati menggunakan kalimat, “tidak bisa.”
Saya lebih menyukai, “belum tahu caranya.”
Keduanya terdengar hampir sama. Tetapi sebenarnya memiliki makna yang sangat berbeda.
Tidak bisa adalah tembok. Belum tahu caranya adalah pintu.
Kalau saya mengatakan tidak bisa, pikiran saya berhenti.
Tetapi ketika saya mengatakan belum tahu caranya, pikiran saya mulai bertanya:
Bagaimana caranya? Siapa yang bisa saya tanyai? Apa yang harus saya pelajari? Apa yang salah dari percobaan sebelumnya? Teknologi apa yang bisa membantu? Strategi apa yang harus diubah? Apa yang belum saya pahami?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian membuka jalan.
Dan mungkin sebenarnya inilah fungsi paling penting dari believe system.
Bukan membuat semua masalah tiba-tiba hilang.
Tetapi membuat manusia tetap mencari jalan ketika jawabannya belum terlihat.
Saya Kembali kepada Gambar Paus Itu
Pada akhirnya pikiran saya kembali kepada secarik kertas bertahun-tahun lalu.
Seorang anak menunjukkan sebuah gambar kepada saya. Saya melihat coretan. Dia melihat paus.
Bertahun-tahun kemudian, ketika menghadapi ujian masuk sekolah, banyak orang melihat kemungkinan gagal. Tetapi dia dan orang tuanya melihat kemungkinan berhasil.
Dan dia memilih mencoba. Kemudian dia berhasil melewatinya.
Apakah semua orang yang memiliki keyakinan akan selalu mendapatkan hasil seperti itu?
Tentu tidak.
Saya tidak ingin menyederhanakan kehidupan menjadi rumus: percaya + mencoba = pasti berhasil.
Hidup tidak bekerja sesederhana itu. Ada kehendak Allah SWT yang berada di atas semua rencana manusia.
Tetapi saya percaya pada rumus yang berbeda:
percaya → berani mencoba → belajar → berusaha → mengevaluasi → mencoba kembali → berserah kepada Allah SWT.
Di situlah manusia berkembang.
Mungkin hasil akhirnya sesuai dengan keinginan kita. Mungkin juga Allah SWT membukakan jalan yang berbeda.
Tetapi kita tidak lagi menjadi manusia yang sama seperti ketika memulai perjalanan.
Kita bertumbuh.
Karena Paus Itu Memang Ada
Sekarang ketika mengingat gambar tersebut, saya tidak lagi bertanya apakah coretannya benar-benar menyerupai seekor paus.
Pertanyaan itu sudah tidak penting.
Karena paus yang sebenarnya bukan berada di atas kertas.
Paus itu berada di dalam keyakinannya.
Dan keyakinan itulah yang jauh lebih berharga.
Dahulu dia percaya bahwa gambar itu adalah paus. Kemudian dia percaya bahwa dirinya mampu melewati sebuah ujian ketika banyak orang meragukannya.
Besok mungkin dia akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.
Dan saya berharap satu hal tetap tinggal dalam dirinya:
keberanian untuk percaya bahwa selalu ada sesuatu yang layak diperjuangkan.
Begitu juga dengan saya. Begitu juga dengan kita semua.
Ada kalanya dunia melihat apa yang kita lakukan hanya sebagai sebuah coretan.
Belum jelas. Belum sempurna. Belum menghasilkan. Belum masuk akal.
Orang lain mungkin belum bisa melihat apa yang kita lihat.
Tidak apa-apa.
Selama niat kita baik. Selama kita mau belajar. Selama kita bersedia bekerja. Selama kita berani mencoba. Selama kita mau mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Dan selama kita memahami bahwa pada akhirnya semua terjadi hanya atas izin Allah SWT.
Maka saya memilih untuk tetap melangkah.
Karena saya percaya, jalan tidak selalu harus terlihat sebelum perjalanan dimulai.
Terkadang kita harus mengambil satu langkah terlebih dahulu. Kemudian satu langkah berikutnya. Lalu satu langkah lagi.
Sampai suatu hari kita menoleh ke belakang dan baru menyadari bahwa jalan yang dahulu kita cari ternyata terbentuk dari langkah-langkah kecil yang tidak pernah kita hentikan.

Dan kalau dahulu dia begitu yakin bahwa secarik kertas itu adalah gambar paus,
maka hari ini saya juga memilih untuk percaya:
Di mana ada niat baik, di situ ada jalan yang bisa dicari untuk tetap melangkah maju.
Bukan karena kita memiliki kuasa atas segala sesuatu. Bukan karena kita merasa mampu menaklukkan dunia sendirian.
Tetapi karena kita memiliki kewajiban untuk berikhtiar dan keberanian untuk mencoba, sambil percaya bahwa selama Allah SWT merestui perjalanan itu, sesuatu yang hari ini terlihat mustahil bisa saja menjadi mungkin.
Sebab pada akhirnya,
kegagalan yang benar-benar pasti adalah ketika kita memutuskan untuk tidak pernah mencobanya.